Penukaran Uang Receh Tak Senilai Adalah Riba

Tanya :

Menjelang Idul Fitri biasanya banyak orang menukar uang besar dengan uang receh di pinggir jalan, tapi dengan nilai yang tidak sama. Misal : satu lembar uang seratus ribuan (Rp100.000) ditukar dengan uang receh ribuan (Rp1000) milik penjual receh sebanyak 95 lembar (Rp95.000), bukan 100 lembar. Atau satu lembar uang seratus ribuan (Rp100.000) dan selembar uang lima ribuan (Rp5000) (total Rp105.000) ditukar dengan uang receh ribuan (Rp1000) milik penjual receh sebanyak 100 lembar (Rp100.000). Apakah penukaran uang ini termasuk riba? (Haidar, Semarang). Baca lebih lanjut

Iklan

Istiqamah Makan Riba

Kita ini teramat istiqamah. Bagaimana tidak?

Angka pengangguran di Indonesia 2009 akan mencapai 3,5 juta orang. Bulan November 2008 saja sudah mencapai 26.488 orang yang di-PHK, 4.022 orang yang sudah dirumahkan, bulan Desember ada 23.284 orang akan PHK dan 18.891 orang dirumahkan, (Koran Tempo, 01/12/08).

Tapi kita masih saja istiqamah. Istiqamah dalam menjaga amanah. Amanah untuk melestarikan sistem warisan penjajah. Bahkan kita berdoa agar sabar dalam menjalaninya. Sudah banyak korban yang berjatuhan akibat sistem Kapitalisme ini. Sistem yang membolehkan apa yang tidak diperbolehkan oleh Islam, seperti transaksi ribawi. Tapi kita masih bilang bahwa itulah resiko Demokrasi yang kita nanti-nanti. Sistem yang kita perjuangkan sampai mati.

Adik saya bertanya; “Kak, kata Kakak makan riba itu tidak boleh. Tapi kenapa negara kita membiarkan riba tetap ada?”

Seandainya Anda jadi saya, apa jawaban yang pas untuk adik saya tersebut?