Hukum Seputar Ibadah Puasa

Dalil kewajiban shaum.

فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Siapa saja di antara kalian yang melihat hilal bulan Ramadhan, maka berpuasalah. (QS al-Baqarah [2]: 185).

Dalil shaum juga didasarkan pada hadis penuturan Ibn Umar ra. yang menyatakan:

«اَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: بُنِيَ اْلاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهاَدَةِ اَنْ لاَ الَهَ اِلاَّ اللهُ، وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَاِقاَمِ الصَّلاَةِ، وَاِيْتاَءِ الزَّكاَةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضاَنَ»

Sesungguhnya Nabi saw. pernah bersabda,Islam itu dibangun di atas lima perkara: kesaksian bahwa tidak Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan shalat; menunaikan zakat; beribadah haji; dan shaum Ramadhan.” (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Shaum wajib Bagi yang Balig dan Berakal

Karena itu, secara pasti shaum merupakan kewajiban setiap Muslim yang telah balig dan berakal. Dalam hal ini, Baca lebih lanjut

Hukum-hukum Seputar Puasa (Bagian Ketiga)

Niat Puasa

Niat dalam melaksanakan puasa merupakan rukun yang harus dipenuhi. Rasulullah saw bersabda:

إنّمَا الأَعْمَالُ بالنِّيّاتِ

“Sesungguhnya amal itu ditentukan oleh niatnya.” (HR.Bukhari)

Namun demikian para ulama berbeda pendapat tentang pelaksanaan niat dalam ibadah puasa. Abdullah bin Umar, Jabin bin Zaid dari kalangan sahabat, Malik, al-Laits dan Ibnu Abi Zi’bin berpendapat bahwa niat puasa baik yang wajib dan sunnah adalah di malam hari mulai dari pasca terbenamnya matahari hingga sebelum terbitnya fajar. Abu Hanifah. Syafi’I, Ahmad berpendapat bahwa wajib berniat di malam hari untuk puasa wajib (puasa Ramadlan, nadzar dan kaffarat) sementara puasa sunnah tidak wajib di malam hari dan boleh di siang hari. Pendapat ini adalah yang rajih dengan dalil:

عَنْ حَفْصَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ.

Dari Hafsah istri Rasulullah saw dari Rasulullah saw beliau bersabda: “Barangsiapa yang tidak berniat sebelum fajar maka tidak ada puasa atasnya.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan ia menshahihkannya demikian pula dengan al-A’dzamy)

Hadits ini berlaku umum baik puasa wajib ataupan sunnah. Namun terdapat riwayat lain yang menjelaskan bahwa Rasulullah berniat puasa setelah terbit fajar. Baca lebih lanjut

Hukum-hukum Seputar Puasa (Bagian Kedua)

Penentuan Awal dan Akhir Ramadhan

Jumhur ulama berpendapat bahwa kesaksian melihat hilal bulan Ramadhan yakni permulaan bulan Ramadhan cukup satu orang. Jika disaksikan oleh seorang muslim yang adil bahwa ia telah melihat hilal Ramadhan maka seluruh kaum muslim wajib untuk berpuasa. Dari Ibnu Abbas r.a.

جَاءَ أَعْرَابِيُّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ : أَبْصَرْتُ الهِلاَلَ اللَّيْلَةَ فَقَالَ : أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ ؟ قَالَ : نَعَمْ قَالَ : قُمْ يَا فُلَانُ فَأَذِّنْ بِالنَّاسِ فَلْيَصُوْمُوْا غَدًا

Seorang orab datang kepada Rasulullah saw dan berkata: saya telah melihat hilal malam ini. Maka Rasul berkata kepadanya: “Apakah engkau berasaksi bahwa tiada tuhan selaian Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya?” Ia menjawab: “iya.” Rasul kemudian bersabda: “Berdirilah wahai Fulan dan serukan kepada manusia agar mereka berpuasa besok.” (HR. Ibnu Khuzaimah. Al-A’dzamy menshahihkannya) Baca lebih lanjut

Hukum-hukum Seputar Puasa (Bagian pertama)

Keutamaan Puasa

Definisi Puasa

Puasa secara bahasa berarti: menahan (الِإمْسَاكُ), diam (الصُمْتُ), tidak bergerak (الرُكُوْدُ) dan yang semakna dengannya. Allah SWT berfirman:

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. (QS. Maryam [19]:26)

Adapun menurut syara’ puasa adalah: menahan diri dari segala yang membatalkan yakni makan, minum, hubungan seks’ memasukkan air ke tenggorokan melalui hidung (isti’âth), muntah dengan sengaja (istiqâ) dengan niat bertaqarrub kepada Allah swt mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Keutamaan Puasa

Banyak riwayat yang menjelaskan keutamaan ibadah puasa antara lain: Baca lebih lanjut