Istiqamah Makan Riba

Kita ini teramat istiqamah. Bagaimana tidak?

Angka pengangguran di Indonesia 2009 akan mencapai 3,5 juta orang. Bulan November 2008 saja sudah mencapai 26.488 orang yang di-PHK, 4.022 orang yang sudah dirumahkan, bulan Desember ada 23.284 orang akan PHK dan 18.891 orang dirumahkan, (Koran Tempo, 01/12/08).

Tapi kita masih saja istiqamah. Istiqamah dalam menjaga amanah. Amanah untuk melestarikan sistem warisan penjajah. Bahkan kita berdoa agar sabar dalam menjalaninya. Sudah banyak korban yang berjatuhan akibat sistem Kapitalisme ini. Sistem yang membolehkan apa yang tidak diperbolehkan oleh Islam, seperti transaksi ribawi. Tapi kita masih bilang bahwa itulah resiko Demokrasi yang kita nanti-nanti. Sistem yang kita perjuangkan sampai mati.

Adik saya bertanya; “Kak, kata Kakak makan riba itu tidak boleh. Tapi kenapa negara kita membiarkan riba tetap ada?”

Seandainya Anda jadi saya, apa jawaban yang pas untuk adik saya tersebut?

Iklan

Jilbab, Enggak Wajib?

Sangat pilu! Itulah perasaan seorang gadis Muslimah yang bernama Winie Dwi Mandella, petugas medis di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat. Betapa tidak, di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini ia mendapatkan perlakuan yang sangat tidak adil; dipecat dari rumah sakit tempat kerjanya hanya karena mengenakan jilbab/kerudung.

Kisah malang yang menimpa Winie semakin menambah panjang kasus-kasus serupa di tempat lain dan institusi yang berbeda. Puluhan tahun silam, Januari 1983, misalnya, SMAN 68 Jakarta Pusat pernah melarang salah seorang siswinya mengikuti pelajaran karena mengenakan jilbab. Ia dianggap tidak mematuhi aturan seragam sekolah. Hal serupa terjadi di SMAN 33 Jakarta.

Masih ingat dengan kasus pemecatan Hadis dan Dewi? Mereka adalah dua mahasiswi Akper Muhammadiyah Banjarmasin yang dikeluarkan lantaran tidak menaati aturan berpakaian yang ditetapkan oleh institusi tempatnya belajar. Keduanya dikeluarkan hanya karena mengenakan jilbab yang mereka yakini lebih sempurna. Ini terjadi pada tahun 2003. Baca lebih lanjut