Khutbah Rasulullah SAW di Akhir Sya’ban

Assalâmu’alaikum Warahmatullâhi Wabarakâtuh,

Saudaraku yang dirahmati Allah SWT, alhamdulillah Ramadhan sudah di pelupuk mata. Kita semua tentu berharap dapat dipertemukan dengan sebaik-baik bulan ini. Bulan yang di dalamnya terdapat beragam keutamaan. Siapa yang benar-benar mempersiapkan untuk menyambutnya, insya Allah akan merasakan manisnya kemuliaan di bulan tersebut. Tiada salahnya kita menyimak kembali salah satu khutbah Rasulullah SAW di akhir bulan Sya’ban. Semoga khutbah Beliau dapat merefresh semangat dan ikhtiar kita untuk lebih gencar dalam mempersiapkan diri menyambut bulan seribu bulan, Ramadhan. Imam Ibn Khuzaimah dalam kitab at-Targhib (jld. 2, hal. 217-218), meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Salman ra yang mengatakan, bahwa Rasul Saw pada hari terakhir bulan Sya’ban berkhutbah di hadapan kaum Muslim, sebagai berikut:

Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan dinaungi oleh suatu bulan yang agung lagi penuh berkah, yaitu bulan yang di da­lamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadi­kan puasaNya suatu kewajiban dan qiyam (sholat) pada malam harinya suatu tahawwu’ (ibadah sunnah yang sangat dianjurkan). Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan (sunnah) di dalamnya, (ia diganjar pahala) sama seperti menunaikan kewa­jiban (fardhu) di bulan yang lain. Dan siapa saja yang menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan, (ia diganjar pahala) sama de­ngan orang yang mengerjakan 70 kali kewajiban tersebut di bulan yang lain. Ramadhan ada­lah bulan sabar, sedangkan sa­bar itu pahalanya adalah surga (al jannah). Ramadhan itu ada­lah bulan memberikan pertolong­an dan bulan Allah menambah rizki para mukmin di dalamnya. Siapa saja yang pada bulan itu memberikan makanan berbuka kepada orang yang puasa, maka perbuatan itu menjadi pengam­punan atas dosa-dosanya, ke­merdekaan dirinya dari api ne­raka, dan ia mendapatkan pahala seperti pahala orang berpuasa yang diberinya makanan berbuka itu tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.”

 

Para sahabat berkata, “Ya Rasu­lulullah, tidak semua dari kami memiliki makanan berbuka untuk orang-orang yang berpuasa.” Rasulullah Saw pun menjawab, “Allah memberikan pahala terse­but kepada orang yang memberikan sebutir korma sekalipun atau sekedar seteguk air atau sehirup susu. Bulan Ramadhan ini adalah bulan yang permula­annya adalah rahmat, pertenga­hannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan da­ri neraka. Siapa saja yang meringankan beban dari orang yang dikuasainya (hamba sahaya atau bawahannya), niscaya Allah mengampuni dosanya dan membe­baskannya dari api neraka. Ka­rena itu perbanyaklah empat perkara di bulan Ramadhan ini. Dua perkara yang dengannya kalian menyenangkan Tuhan ka­lian dan dua perkara lainnya sangat kalian butuhkan. Dua perkara yang kalian lakukan untuk menyenangkan Tuhan kalian adalah: mengakui dengan sesungguhnya bahwa tiada Tu­han melainkan Allah dan kalian memohon ampunan kepada- Nya. Adapun dua perkara yang sangat kalian butuhkan adalah kalian memohon surgaNya dan berlindung dari api neraka. Si­apa saja yang memberi minum kepada orang yang berpuasa niscaya Allah akan memberinya minum dari air kolamku dengan suatu minuman yang dia tidak merasa haus lagi sesudahnya hingga ia masuk surga.”

______________________

Khutbah singkat Rasul Saw tersebut berisi sejumlah informasi dan pesan penting yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh setiap Mukmin. Ini didasarkan pada kenyataan, bahwa sekarang ini kita hidup pada suatu masa yang jauh dari Rasul; dan pada saat yang sama gambaran utuh kehidupan Islam telah hilang dari muka bumi ini.

 

Ada tiga belas informasi dan pesan penting dari khutbah singkat Rasul Saw di atas, yaitu:

 

Pertama, bulan Ramadhan adalah bulan agung (Syahrun ‘Azim) yang penuh berkah (Syahrun Mubarak) yang mempunyai bobot lebih dibanding sebelas bulan lainnya dan disebut sebagai penghulu segala bulan (Sayidus Syuhur). Oleh karena itu, kaum muslimin harus menyiapkan diri memasuki bulan ini dengan penyambutan yang luar biasa. Tidak boleh mereka melewatkannya begitu saja atau menjalaninya biasa-biasa saja.

 

Kedua, di dalam keagungan bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang sangat utama bagi ummat manusia yaitu Lailatul Qadar (malam kemuliaan yang nilainya lebih baik dari 1000 bulan, atau sekitar sekitar 83 tahun 4 bulan). Imam Ibn Jarir meriwayatkan suatu hadits dari Mujahid yang mengatakan, bahwa ada seorang lelaki Bani Israil yang setiap malam selalu sholat hingga pagi hari, kemudian pada siang hari ia selalu berjihad melawan musuh-musuh Allah hingga sore hari. Hal itu dilakukannya secara terus-menerus selama seribu bulan. Lalu Allah SWT menurunkan firmanNya, “Lailatul Qadar (malam kemuliaan) itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Qs. al-Qadar [97]: 3). Walhasil, beramal shalih pada malam kemuliaan di bulan Ramadhan itu pahalanya lebih baik dan lebih besar daripada pahala amalan orang Bani Israil tersebut.[1]

 

Ketiga, pada bulan ini Allah SWT mewajibkan shaum sebulan penuh (lihat Qs. al-Baqarah [2]:183) yang tujuannya adalah agar kita meningkatkan keimanan dan ketaqwaan semaksimal mungkin. Pada bulan-bulan lain ibadah puasa hukumnya hanyalah sunnah dan bilangan harinya tidak sampai sebulan penuh. Imam Bukhâri dalam kitab Fath al-Bârî (jld. 4, hal. 173), meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah ra, bahwasanya ia berkata, “Rasulullah Saw kadang-kadang terus-menerus berpuasa (sunnah) sampai-sampai kami mengata­kan bahwa beliau tidak berbuka. Kadang-kadang beliau terus-me­nerus berbuka sampai-sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa (sunnah). Saya tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan penuh selain bulan Ramadhan dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa lebih dari bulan itu pada bulan Sya’­ban.” Dalam riwayat lain dise­butkan bahwa beliau Saw. ibadah puasa Ramadhan selama hidup sembilan kali, delapan kali sebulan penuh selama 29 hari dan sekali selama 30 hari.

 

Keempat, selain mewajibkan ibadah puasa di siang hari, Allah SWT menganjurkan ibadah sunnah di malam hari berupa qiyamul lail yang kemudian dikenal dengan sholat Terawih. Rasul Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah memfardhukan shaum di bulan Ramadhan kepada kalian dan aku syari’atkan kepada kalian agar mendirikannya (dengan sholat Terawih). Barangsiapa yang mempuasai dan mendirikannya karena iman dan mengharapkan ridha Allah SWT niscaya ia keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ia dikeluarkan dari ibunya.” [HR. an-Nasâ’i dan Ahmad].

 

Kelima, Allah SWT me­nawarkan pahala luar biasa kepada kaum Muslim yang rajin beribadah di bulan Ramadhan. Siapa saja melakukan amalan sunnah di bulan Ramadhan akan dinilai sama dengan melakukan amalan wajib di bulan lain. Orang yang mengerjakan amalan fardhu di bulan itu, dilipatgandakan 70 kali pahalanya. Oleh karena itu, di bulan Ra­madhan kaum Muslim panen pahala.  Sebab, jika ia melaksanakan sholat lima waktu terus menerus selama sebulan, akan dinilai oleh Allah SWT seperti mengerjakannya dalam 70 bulan. Sedangkan sholat-sholat sunnah seperti rawatib, dluha, tahiyatul masjid, Terawih malam hari, dan lain-lain diganjar pahala setara dengan sholat fardhu pada bulan lain. Orang yang membayar shadaqah dianggap sama dengan membayar zakat pada bulan lain. Sedangkan yang membayar za­kat dinilai seperti 70 kali mem­bayar zakat pada bulan lain.  Siapa saja yang umrah di bulan Ramadhan akan mendapatkan pahala setara de­ngan yang pergi haji.[2] Saking be­sarnya pahala, tidak heran kita membaca sejarah kaum musli­min sejak masa Rasulullah Saw tidak menghentikan ibadah pe­rang jihad fi sabîlillâh yang sa­ngat berat itu di bulan Ramadhan. Mereka tetap berjihad dan berpuasa. Sebab jihad yang sangat tinggi nilainya disetarakan de­ngan 70 kali jihad di bulan lain. Ibadah puasa sendiri tak ter­hitung pahalanya dan Allah sen­diri yang akan membalasnya.

 

Keenam, Ramadhan disebut juga dengan bulan kesabaran (syahrul shabri). Dalam suatu hadits Rasul Saw menggambarkan puasa sebagai separuh kesabaran (nisfu sabri) dan ganjarannya adalah surga. Dalam pidato di atas Rasu­lllah Saw menyebutkan ganjaran sabar adalah surga. Ini sesuai dengan firman Allah SWT, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Qs. az-Zumar [39]: 10).

 

Ketujuh, Ramadhan adalah bulan memberikan pertolongan (Syarul Muwâsah). Pada bulan ini kaum Muslim sangat dianjurkan mengulurkan tangan mereka kepada kaum lemah, yakni para fakir miskin dan orang-orang  yang  sedang kelaparan. Pada bulan inilah sikap kepedulian sosial kaum Muslim ditempa, dan mereka disadarkan bahwa di dalam harta mereka terdapat hak kaum lemah, baik yang meminta-minta maupun yang tidak mau mengemis (Qs. adz-Dzâriyât [51]: 19). Mereka pun diingatkan oleh hadits Rasulullah Saw, “Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur nyenyak dan kenyang di malam hari sementara tetangganya kelaparan padahal ia mengetahui hal itu.”

 

Kedelapan, Ramadhan adalah bulan dimana Allah SWT menambahkan rizkiNya kepada seorang Mukmin. Kaum Mukmin yang se­dang berpuasa dan bekerja men­cari nafkah hingga kepayahan, dengan rahmat Allah akan ditam­bah rizkinya. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan, rahmat Allah juga diberikan kepada orang-orang miskin yang tidak bekerja atau tidak memiliki pekerjaan. Pada bulan Ramadhan biasanya mereka mendapatkan sedekah dan zakat yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan bulan-bulan yang lain.

 

Kesembilan, kita dianjurkan untuk memberi makan untuk berbuka bagi orang-orang yang mengerjakan ibadah puasa. Perbuatan seperti ini adalah perbuatan mulia yang akan dibalas oleh oleh Allah SWT dengan tiga balasan sekaligus; pertama, menggugurkan dosa-dosanya; kedua, membebaskan dirinya dari siksa api neraka; ketiga, diberi pahala setara dengan orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala yang bersangkutan sedikitpun. Ketentuan semacam ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang kaya yang sanggup memberikan makanan la­yak untuk berbuka puasa bagi orang berpuasa, bahkan, berlaku bagi siapapun meski hanya sekedar memberikan satu butir kurma, seteguk air, atau satu hirup su­su.

 

Kesepuluh, Ramadhan adalah bulan yang hari-hari pertamanya adalah rahmat (kasih sayang) Allah SWT kepada kaum Muslim, hari-hari pertengahannya adalah hari pengampunan (maghfirah), dan hari-hari terakhirnya adalah pembebasan kaum Muslim dari api neraka. Dalam suatu hadits disebutkan, bahwa pada bulan Ramadhan, Allah menurunkan rahmatNya dengan membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka.

 

Kesebelas, meringankan beban orang yang dikuasainya; yakni mamluk (orang-orang yang dikuasai); misalnya, budak untuk jaman dahulu, atau barangkali untuk sekarang adalah pegawai dan bawahan.

 

Keduabelas, ada empat perkara yang dipesankan Rasul Saw agar diperbanyak kaum muslimin di bulan Ramadhan. Dua perkara sangat disenangi oleh Allah SWT; yakni meyakini dengan sungguh-sungguh, bahwa tiada tuhan selain Allah dan istighfar (memohon ampunan) kepadaNya. Dua perkara sisanya sangat dibutuhkan kaum Muslim, yakni memohon surgaNya dan berlindung dari api neraka. Oleh karena itu, di bulan Ramadhan, dianjurkan memperbanyak membaca kalimat “Asyhadu an laa ilaha illa al-Allah. Astaghfirullah. As’alukal jannata wa a’uzubika minannâr.”

 

Ketigabelas, siapa saja yang memberi minum kepada orang-orang yang berpuasa akan mendapatkan ganjaran yang tak ternilai harganya; yakni akan mendapatkan minuman dari Allah SWT di akhirat nanti. Minuman itu diambil dari telaga (haudh) Rasulullah Saw, dan siapa saja yang meminumnya tidak merasa haus lagi sesudahnya hingga ia masuk surga. Tentunya, orang yang mendapatkan minuman itu akan merasakan kesegaran luar biasa. Lebih-lebih lagi, peminumnya tentunya habis menjalani pemeriksaan di pos-pos pemberhentian (mauqif) di padang mahsyar yang lama­nya 500 tahun.[3]

 

Inilah tiga belas perkara penting yang bisa kita pahami dari khuthbah Rasulullah Saw. Oleh karena itu, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menyia-nyiakan bulan Ramadhan, atau tidak melaksanakan ibadah semaksimal mungkin.

 

Pada dasarnya, hakikat puasa Ramadhan yang telah diwajibkan kepada kaum Mukmin, tidak lain merupakan wahana penggemblengan mental, fisik dan intelektual agar kadar ketaqwaan kita meningkat dengan pesat, sehingga kita benar-benar lolos dari medan ujian kehidupan dunia dengan meraih predikat muttaqin.

 

Jika demikian, kita wajib menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan ini dengan selalu memperhatikan, memenuhi, dan menyempurnakan rukun-rukun dan sunnah-sunnahnya. Dan kita jangan sampai terjatuh pada perkara-perkara yang membatalkan puasa maupun yang membuat puasa kita sia-sia. (by Syamsuddin Ramadhan dengan sedikit tambahan)


[1] Lihat Asbabun Nuzul Surat al-Qadar dalam Tafsîr Jalâlain.

[2] Lihat kitab Hakadza Nashumu.

[3] Lihat HR. Abû Dâwud yang sesuai dengan keterangan Qs. al-Hajj [22]: 47.

2 Tanggapan

  1. ijin copas yaa

  2. syukron kastiro

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: