Songsong Ramadhan 1431 H

Subhanallah,… tak terasa sebentar lagi Ramadhan 1431 H akan datang. Kita pasti sudah tidak sabar ingin segera bertemu dan berjumpa dengannya. Cuma pertanyaan penting yang perlu kita tanyakan kepada diri kita sendiri adalah “Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menyambutnya?”

Bulan Ramadhan ibarat tamu agung yang telah dikirimkan Allah SWT untuk kita. Di dalamnya terdapat banyak kelebihan dan kemuliaan yang diberikan Allah SWT bagi kita umat Rasulullah Muhammad SAW. Maka betapa meruginya kita, jika detik-detik di dalamnya terlewat begitu saja.

Allah SWT berfirman di dalam QS. al-Qadr [97]: 1-5 ;

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)

(1) Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan [a].
(2) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
(3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
(4) Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
(5) Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Tentang kewajiban puasa tersebut beserta penjelasan lainnya juga disampaikan oleh Allah SWT di dalam QS.al-Baqarah [2]: 183 – 185 ;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (185)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (183) (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[b], maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (184) (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (185)

Sedangkan tentang waktunya, Imam Bukhari telah mengeluarkan dalam kitab Shahih-nya melalui jalur Muhammad bin Ziyah, berkata: Aku mendengar Abu Hurairah ra berkata: Nabi SAW bersabda: Berkata Abu Qasim, Muhammad SAW:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غـبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Jika penglihatan kalian diselimuti mendung, maka sempurnakanlah hitungan Sya’ban menjadi 30 hari.”

Hal ini menunjukkan, bahwa penentuan awal dan akhir bulan puasa (Ramadhan) adalah dengan melihat hilal (bulan tanggal satu). Oleh karena itu setiap muslim di tempat manapun ia berada wajib untuk berpuasa jika telah mendengar pengumuman dari negeri muslim manapun selama masih dalam malam yang sama. Sayangnya pendapat para ulama yang menyatakan bahwa rukyat hilal di satu negeri berlaku untuk negeri lain seringkali diabaikan oleh para pemimpin negeri muslim. Penyebabnya antara lain:

  1. Seluruh negeri-negeri Islam saat ini telah mengadopsi faham sekularisme yang memisahkan urusan politik dengan agama. Akibatnya persoalan penetapan awal akhir Ramadhan tidak lagi didasarkan pada pendapat yang paling kuat dalilnya namun lebih didasarkan pada kemaslahatan mereka. Parahnya lagi mereka malah meminta kepada pada ulama untuk mendatangkan nash-nash yang mendukung pendapat mereka. Bukannya mereka menjadikan nash syara sebagai dasar keputusan mereka. Dengan demikian penguasalah yang membuat syariat sementara para ulama hanya menyetujui. Jika bertetangan maka yang dilaksanakan adalah pandangan penguasa.
  2. Di samping itu umat Islam saat ini telah dibagi-bagi oleh negara-negara penjajah ke dalam puluhan negara bangsa yang terpisah antara satu dengan yang lain. Akibatnya masing-masing umat Islam di suatu negara menganggap dirinya bukan bagian dari ummat Islam yang secara syar’i harus bersatu. Akibatnya masing-masing negara menetapkan keputusan politik mereka termasuk dalam masalah keagamaan tanpa memperhatikan kaum muslim lainnya. Oleh karena itu dalam penentuan awal dan akhir Ramadhan masing-masing negara menetapkan sendiri keputusan mereka tanpa mempertimbangkan negeri-negeri yang lain apakah ada diantara mereka yang telah melihat hilal terlebih dahulu. Jika Malaysia telah melihat hilal namun Indonesia tidak melihatnya maka penduduk Malaysia berpuasa sementara penduduk Indonesia belum berpuasa termasuk mereka yang berada di daerah perbatasan meski jaraknya hanya sejengkal dan memiliki kesamaan matla’ berbeda dalam memulai dan mengakhiri puasa. Hal inilah yang sering dijumpai di negeri-negeri Islam. Jadi perbedaan tersebut bukan diakibatkan oleh perbedaan matla’ dimana para fuqaha berbeda pendapat namun lebih karena perbedaan batas negara, batas imaginer  buatan penjajah yang telah mengkotak-kotakkan ummat Islam.

Inilah yang menjadi sebab awetnya perbedaan di negeri-negeri Islam khususnya yang berkenaan dengan awal dan akhir Ramadhan. Jika sekiranya negeri-negeri tersebut menganggap diri mereka sebagai bagian dari ummat Islam yang lain maka akan dijumpai penyatuan sikap terhadap berbagai masalah termasuk dalam penetapan awal dan akhir Ramadhan. Di sinilah relevensi pentingnya eksistensi seorang khalifah yang menyatukan kaum muslim termasuk dalam penetapan awal dan akhir Ramadhan.

‘Alâ kulli hâl, detik-detik menjelang Ramadhan semakin dekat. Mari benar-benar kita gunakan seoptimal mungkin untuk mempersiapkan diri, keluarga dan orang-orang di sekitar kita untuk aktivitas yang bernilai di sisi Allah SWT. Jangan sampai kita mengisi waktu kita dengan amalan yang tidak ada faidahnya baik untuk dunia terlebih lagi akhirat kita. Na’ûdzubillâh.

Mari kita memohon kepada Allah SWT agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang terbebaskan (dari segala dosa) dalam bulan ampunan dan kebaikan tersebut. Kita juga memohon kepada Allah SWT agar mengantarkan kita pada malam Lailatul Qadar, dan memuliakan kita dengan naungan ridha-Nya serta pahalanya yang agung. Âmîn yâ Mujîbas Sâilîn.

Wallahu a’lam bish-showab.

__________________________________________________________

Catatan:

[a]. Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran. Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Nabi saw. bermimpi melihat Bani Umayyah menduduki dan menguasai mimbarnya setelah beliau wafat. Beliau merasa tidak senang karenanya. Maka turunlah QS.108:1, dan QS.97:1-5 untuk membesarkan hati beliau. (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim dan Ibnu Jarir yang bersumber dari al-Hasan bin Ali.)

Keterangan:
Al-Qasim al-Hirani menyatakan bahwa kerajaan Bani Umayyah itu ternyata berlangsung tidak lebih dan tidak kurang dari 1000 bulan. Menurut at-Tirmidzi, riwayat ini Gharib sedang al-Muzani dan Ibnu Katsir menyebutnya sangat munkar.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah menyebut-nyebut seorang Bani Israil yang berjuang fii sabilillah menggunakan senjatanya selama seribu bulan terus menerus. Kaum muslimin mengagumi perjuangan orang tersebut. Maka Allah menurunkan QS.97:1-3, bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada perjuangan Bani Israil selama 1000 bulan. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Wahidi yang bersumber dari Mujahid.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa di zaman Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang beribadah malam hari hingga pagi dan berjuang memerangi musuh pada siang harinya. Perbuatan itu dilakukan selama seribu bulan. Maka Allah menurunkan QS.97:1-3 yang menegaskan bahwa satu malam lailatul qadr lebih baik daripada amal 1000 bulan Bani Isra’il tersebut. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid.)

[b] Maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari. Ayat ini (QS. 2: 184) turun berkenaan dengan maula (Budak yang sudah dimerdekakan) Qais bin Assa-ib yang memaksakan diri berpuasa, padahal ia sudah tua sekali. Dengan turunnya ayat ini (QS. 2: 184), ia berbuka dan membayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin, selama ia tidak berpuasa itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam kitab at-Thabaqat yang bersumber dari Mujahid).

Diolah dari berbagai sumber.

﴿شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه  وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: