Menyambut Masa Depan Islam

Institusi Modern Islam Di Masa Depan Dan Tantangan Pada Saat Berdirinya

Meraih Masa Depan Cerah dengan IslamRasulullah saw. diutus Allah Swt. dengan membawa Islam sebagai petunjuk dan kebenaran untuk dimenangkan atas semua agama dan ideologi. Beliau telah menyaksikan janji tersebut saat tegaknya Islam di Madinah hingga akhir wafatnya. Beliau pun telah menyampaikan berita gembira tentang sampainya Islam ke setiap daerah seperti sampainya siang dan malam, dan kemunculan kembali Khilafah di atas metode kenabian, yang akan menjadi penerap Islam sekaligus benteng bagi kaum Muslim.

Tantangan

Persoalannya, apa tantangan yang akan dihadapi saat berita gembira tegaknya Khilafah itu mewujud? Tak ada seorang pun yang tahu. Hanya Allah Swt. sajalah yang mengetahui apa yang terjadi. Sekalipun demikian, pengalaman Rasulullah saw. di Madinah memberikan pelajaran berharga tentang hal ini. Jalan yang beliau lalui tidaklah mulus. Terdapat tantangan, baik yang datang secara internal, yakni, berupa kemungkinan friksi antara kalangan Muhajirin dan Anshar sehingga beliau mempersaudarakannya, maupun secara eksternal, yaitu pihak luar dari kalangan Yahudi Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa di sekitar Madinah, serta tantangan dari kafir Quraisy di Makkah. Berdasarkan hal ini, tegaknya kembali Daulah Khilafah pada masa datang tampaknya juga akan menghadapi tantangan yang kurang lebih sama.

Ada dua tantangan yang sangat mungkin akan dihadapi. Pertama, tantangan internal, yakni berupa: (1) tantangan pada saat diterapkannya Islam secara total; (2) tantangan yang menyangkut penyatuan negeri-negeri Islam. Kedua, tantangan eksternal, yakni berupa serangan militer dari negara-negara kafir.

Sejarah menunjukkan bahwa pada masa Daulah Khilafah dulu muncullah kelompok yang menimbulkan persoalan internal. Di antaranya adalah kelompok yang menyerukan bahwa Khilafah itu khusus untuk ahlul bait (keluarga/keturunan Nabi saw.). Muncullah Khilafah Fathimiyah di Mesir dan berhenti pada masa Khilafah ‘Abbasiyah. Muncul pula barisan Syiah di Iran dan Adzarbaijan yang berhenti saat Khilafah Utsmaniah. Demikian pula, pada akhir Daulah Utsmaniyah; berdiri kelompok yang menyerukan pengembalian khilafah kepada Arab, dengan alasan khalifah harus dari suku Quraisy.

Padahal, tujuan utamanya adalah memecah-belah Khilafah bagi kepentingan Inggris. Selain itu, Inggris membentuk gerakan-gerakan seperti Qadhiyani dan Bahai yang menyerukan peniadaan jihad serta berserah diri pada Inggris dan penguasa saat itu.

Pada saat sekarang pun tampak adanya pandangan seperti itu. Karena itu, dalam proses pembinaan umat perlu adanya kejelasan tentang duduk perkara hukum syariat tersebut. Lebih dari itu, dari kalangan internal umat Islam, bukan sekadar muncul komunitas yang anti syariat Islam, ada juga kalangan yang memandang al-Quran sebagai bukan kitab suci, yang karenanya tidak sakral serta boleh diubah dan ditarik kesana-kemari sesuai tangan manusia. Jika sejarah dan kekinian menunjukkan adanya gejala tersebut maka ada kemungkinan saat Khilafah berdiri persoalan tantangan pada saat diterapkannya Islam secara total juga muncul. Bisa saja kelak ada kelompok yang secara sengaja dibentuk seakan-akan Islam, tetapi berupaya untuk meragu-ragukan terhadap Islam dan Khilafah, atau menyerukan kembali pada negara mazhab.

Demikian halnya dengan tantangan dalam penyatuan negeri-negeri Islam. Sampai sekarang paham nasionalisme masih bercokol dalam benak kaum Muslim, khususnya para penguasanya. Sekat-sekat antar negeri Muslim pun terus dibuat. Irak akan dipecah menjadi 3 negara (Sunni, Syiah, dan Kurdi). Sudan akan dipecah menjadi Sudan Utara dan Sudan Selatan. Gejala disintegrasi di Indonesia juga akan semakin menyulitkan penyatuan negeri-negeri Islam. Semua tantangan ini akan dihadapi kaum Muslim.

Sebaliknya, tantangan dari luar adalah berupa serangan militer, yang merupakan hal yang kasatmata. Dulu, saat Rasulullah saw. menegakkan negara Madinah, pihak kafir Quraisy siap-siap menyerbu dan berkonspirasi dengan Yahudi di Madinah. Keruntuhan Khilafah Utsmaniah pun tidak dapat dilepaskan dari peran militer negara-negara besar. Negara kaum Muslim tersebut diporakporandakan pada zaman Perang Dunia I tahun 1914–1918.

Realitas sekarang pun menunjukkan betapa pihak negara kafir pimpinan AS tidak rela melihat suatu negeri Muslim kuat. Kasus penyerbuan terhadap Afganistan yang dipandangnya sebagai pemerintahan Islam merupakan bukti yang tak dapat disangkal. Mereka tidak rela Islam jaya. Sekalipun bukan pemerintahan Islam, dengan alasan memiliki senjata pemusnah massal, Irak juga diporakporandakan. Begitu juga Iran. Salah satu negeri Muslim ini diancam diperlakukan sama seperti Irak dengan alasan mengembangkan senjata nuklir. Jika terhadap Afganistan, Irak, dan Iran mereka memperlakukan seperti ini, apalagi terhadap Daulah Khilafah yang tegas-tegas memproklamirkan diri menjadi pembela Islam dan kaum Muslim. Mungkin saja, di samping serangan militer, mereka juga akan merekrut sebagian kaum Muslim munafik atau lemah imannya untuk meragu-ragukan eksistensi Khilafah, atau merebut kekuasaan sejak dini dengan bantuan mereka. Bahkan, mungkin saja pihak negara besar mendukung suatu negeri Muslim memproklamirkan ‘Khilafah’ yang lain untuk memecah-belah barisan kaum Muslim dari dalam. Masih banyak hal lain yang dapat terjadi.

Tampaklah, sejak awal berdirinya, tantangan yang dihadapi Khilafah demikian besar. Namun, tidak perlu takut. Sebab, Allah berjanji akan menolong siapapun yang beriman dan menolong agama-Nya. Sikap yang harus diambil adalah mempersiapkan umat Islam secara keseluruhan dan menyadarkan mereka akan adanya tantangan masa depan ini.

Solusi

Tantangan yang ada di awal tegaknya Khilafah mirip dengan apa yang dihadapi oleh Rasulullah saw. Karena itu, untuk dapat menemukan solusi dalam menghadapi tantangan tersebut, kaum Muslim perlu mengambil pelajaran dari apa yang dilakukan oleh beliau.

Setibanya di Madinah, beliau beserta para sahabat membangun masjid sebagai pusat ibadah, kajian Islam, dan penyelesaian berbagai masalah umat. Lalu, Rasul dan para sahabat dipersaudarakan dua orang-dua orang. Masing-masing Muhajirin diberi alokasi rumah dengan bantuan kaum Anshar. Orang-orang yang bukan dari Muhajirin maupun Anshar (Badui) ditempatkan di bagian masjid yang ada atapnya (shuffah) sehingga dikenal sebagai ahlush shuffah. Kebijakan ini merupakan suatu strategi politik yang jitu, perhitungan tepat, dan pandangan yang jauh. Kehebatannya jelas terlihat saat segala upaya kalangan munafik yang hendak merusak dan menjerumuskan kaum Muslim ke dalam peperangan antara suku Aus dan Khajraj serta antara kaum Muhajirin dan Anshar.

Setelah pondasi persaudaraan dibangun, Rasulullah saw. membentuk Piagam Madinah (Watsîqah al-Madînah). Dalam piagam tersebut tampak dua hal besar. Pertama pengaturan dalam negeri. Teks-teks piagam tersebut mengatur tata aturan antara warga negara Madinah; baik Muslim, kaum musyrik Aus dan Khazraj yang belum masuk Islam, maupun Yahudi yang menjadi warga negara Madinah (man taba‘anâ min Yahûd). Kedua, perjanjian dengan kabilah-kabilah Yahudi Bani Auf, Bani Najar, Bani al-Harits, Bani Sa‘adah, Bani Jasym, Bani Aus, Bani Tsa‘labah, Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa sebagai negara tetangga. Salah satu isinya adalah tidak boleh membantu apalagi bersekongkol dengan kafir Quraisy untuk menentang negara Rasul di Madinah.


Ajaran Nabi Muhammad serta teladan dan bimbingan yang diberikannya telah meninggalkan pengaruh besar dalam jiwa manusia. Hal ini membuat Yahudi cemas. Mulailah mereka membuat intrik-intrik, tindakan bermuka-dua. Pendeta-pendeta mereka berpura-pura masuk Islam, lalu memperlihatkan kesangsian dan keraguannya, memunculkan pertanyaan-pertanyaan untuk menggoyahkan iman. Al-Quran membongkar semua makar ini.

Berikutnya, beliau dan para sahabat mempersiapkan nuansa perang melawan Quraisy. Manuver politik yang pernah dilakukannya adalah berupa diutusnya Hamzah bin Abdul Muthalib ke tepi Laut Merah di bilangan ‘Ish dengan membawa 30 orang dari kalangan Muhajirin. Beliau juga mengutus Ubaidah bin al-Harits dengan 60 orang kaum Muhajirin menuju suatu tempat air di Hijaz yang dikenal dengan Wadi Rabigh. Sekalipun kedua pasukan tersebut sama-sama bertemu dengan pasukan Quraisy, kedua pihak tidak jadi berperang. Inilah manuver politik Rasulullah saw. Begitulah langkah-langkah awal yang dilakukn oleh Nabi saw. di Madinah.

Merujuk pada hal-hal tersebut, ada beberapa solusi yang semestinya dilakukan, yaitu:

Daulah Khilafah menerapkan Islam secara langsung, menyeluruh, dan sempurna tanpa bertahap. Jika tidak, negara akan gagal menerapkan aturan Islam; pihak lain akan berupaya membelokkan penerapan hukum Islam, menentang Islam dan kaum Muslim; propaganda tentang ketidakmampuan Islam dalam memecahkan masalah pun akan diangkat oleh musuh-musuh Islam yang akhirnya kedustaan ini boleh jadi menjadi opini, dan kaum Munafik pun akan segera mengambil-alih kekuasaan yang baru tegak. Penerapan langsung ini akan mulus dijalankan jika upaya pembinaan dan penegakkan Islam melalui jalan umat (‘an tharîq al-’ummah) berjalan sebagaimana mestinya. Di sinilah urgensi dakwah dalam rangka pembinaan umat pada tahap sebelum tegaknya Khilafah.

Segera menerapkan akad dzimmah dengan non-Muslim yang bersedia menjadi warga negara. Hal ini ditujukan agar tidak ada dukungan pada kelompok separatis ataupun munculnya pemberontakan dari kalangan non-Muslim.

Mendakwahi para penguasa di negeri Islam untuk menyatukan negeri mereka ke Daulah Khilafah. Salah satu caranya adalah menjalin hubungan dengan berbagai kelompok atau partai politik Islam di negeri-negeri Islam seluruh dunia. Hal ini akan memudahkan ajakan Khilafah untuk menyatukan negeri-negeri Islam. Jika menolak, berarti mereka bughât, yakni membangkang pemerintahan yang sah secara syar‘î. Padahal, ketaatan itu merupakan pilar pokok stabilitas Khilafah.

Khilafah secara intens menjalin interaksi dengan seluruh negara di dunia untuk menjelaskan pandangannya dan meyakinkan mereka untuk tidak bersekutu menyerang atau menentang Khilafah. Khilafah menjelaskan lewat media massa, utusan, atau sarana lainnya bahwa dialah pembebas bangsa-bangsa dari penjajahan; Islam adalah pembebas dunia dari kesesatan; Islamlah yang memiliki pemecahan yang benar terhadap setiap permasalahan negara dan bangsa. Hal ini dilakukan dengan penerapan Islam secara benar di dalam negeri serta menampakkan keagungan pemikirammya lewat berbagai sarana.

Menjalin perjanjian dengan negara lain dalam perdagangan, ilmu pengetahuan, hubungan bertetangga yang baik, hubungan diplomasi, dan tidak saling menyerang. Intinya adalah agar tidak terdapat serangan ke dalam Daulah Khilafah. Hal ini seperti dicontohkan Nabi dalam Perjanjian Hudaibyah. Begitu pula perjanjian bertetangga baik dengan kabilah Yahudi di Madinah. Namun demikian, harus dicatat, Rasulullah saw. melakukan hal ini secara temporer (waktu tertentu).

Melakukan berbagai manuver politik. Misalnya, dengan melakukan unjuk kekuatan (show of power).

Memerangi setiap pemikiran, pemahaman, dan tolok ukur Barat yang kufur dengan cara menjelaskan kontradiksi, kerusakan, dan kebatilannya—yang disampaikan dengan berbagai bahasa yang ada di dunia.

Menunjukkan kerusakan Perserikatan Bangsa-Bangsa serta kelicikan dan cengkeraman negara-negara besar terhadap lembaga internasional tersebut, seraya mengajak berbagai negara dunia untuk keluar dari PBB dan berhukum pada Khilafah dalam ‘tatanan dunia baru’ yang adil di bawah naungan Islam.

Menghadapi Serangan Militer

Jika ternyata musuh-musuh Islam tetap melakukan serangan militer, tidak ada cara lain kecuali melawannya dengan jihad fî sabîlillâh. Hal tersebut dapat ditempuh dengan cara:

Menggerakkan umat secara cepat dan kuat menjelang berdirinya Khilafah melalui media, para dai, dan setelah tegaknya Khilafah, penguasa mengumumkan jihad. Satu hal yang membahayakan adalah bercokolnya pangkalan-pangkalan militer negara besar, seperti AS, di negeri-negeri Muslim. Di sinilah salah satu urgensi menentang kehadiran pangkalan militer asing sejak kini.

Jika militer asing tetap menyerang, maka: (a) Menyeru seluruh orang yang mampu untuk mengangkat senjata untuk dilatih dan terjun dalam jihad; (b) Membagikan senjata kepada semua orang yang telah dilatih, dan menggabungkannya ke satuan-satuan dengan pemimpin masing-masing sebagai bagian dari pasukan Khilafah; (c) Mengobarkan semangat jihad di dada prajurit; (d) Menyeru kaum Muslim di luar wilayah Khilafah untuk datang dan bergabung dengan pasukan Khilafah sebagai panggilan jihad; (e) Melatih keahlian orang-orang yang sesuai untuk disebarkan ke seluruh penjuru dunia dalam rangka mengokohkan Khilafah.

Menjadikan pandangan seluruh kaum Muslim terarah pada Khilafah hingga apa yang sedang terjadi dapat menimbulkan pengorbanan mereka untuk membela umat Islam dan Khilafah.

Kondisi seperti ini akan dapat membersihkan Khilafah dari para pengkhianat, baik dari kalangan awam maupun intelektual, karena mereka akan merasa terasing yang akhirnya tidak betah dan keluar.

Saat kondisi ini terjadi maka negara-negara besar seperti AS, Rusia, Inggris atau yang lain akan mundur dan tidak menyerang.

Saat kondisi seperti ini terjadi maka kemungkinan yang akan dihadapi adalah embargo ekonomi. Untuk menghadapinya perlu dilakukan langkah berikut:

Mewujudkan swasembda ekonomi dan menghentikan ketergantungan terhadap negara asing.

Menggunakan komoditas strategis untuk mendapatkan komoditi vital bagi masyarakat dengan jalan hanya akan mengekspor komoditas strategis dalam negeri (seperti minyak, gas, dan lainnya) untuk mendapatkan komoditas vital yang diperlukan.

Menerapkan ekonomi Islam secara total sehingga problematika ekonomi dapat diatasi.

Demikianlah tantangan besar yang akan dihadapi. Nabi mengajarkan, kita jangan mencari musuh, tetapi kalau ada maka janganlah lari. Semoga tantangan di atas tidak akan terjadi, artinya Khilafah akan muncul dengan mulus. Akan tetapi, jika Allah Swt. menguji dengan kemunculannya maka satu-satunya cara adalah menghadapinya dengan bantuan Allah Zat Mahaperkasa. []

2 Tanggapan

  1. Cahayoooo, keep semangat n Tsiqoh 4 Struggle Dakwah online…oiya mas GI’E kapan ada Kajian Tafsir Lg yah,,…. *_”

  2. pak sugiono. tolong donk bikinkan artikel tentang hukumself devence dalam islam. dalam konteks politik, mungkin jihad itu termasuk self devence, tapi bagaimana dalam konteks individu. apabila ada ancaman terhadap individu. pembelaan diri yang seperti apa yang diperbolehkan islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: