Hidayah, dicari ato ditunggu?

Berbicara tentang Hidayah, banyak sekali fakta di masyarakat yang menarik untuk disikapi. Bahkan akhir-akhir ini marak film sinetron yang bertajuk Hidayah. Alih-alih penonton mendapatkan pencerahan setelah nonton acara tersebut. Kebanyakan malah “terjerumus” ke dalam pemahaman dan aktivitas syirik, tahayul dan khurafat. Sebagai seorang Muslim, kita wajib memiliki pemahamn yang shahih tentang hidayah, yakni seputar petunjuk (al Hudâ, hidâyah) dan kesesatan (adh Dholâl, dholâlah).

Terdapat beragam pemahaman mengenai hidâyah dan dholâlah. Ada yang menyandarkan hidâyah dan dholâlah itu secara mutlak kepada Allah SWT. Mereka mengharapkan hidayah tapi tanpa diimbangi usaha/ikhtiyar untuk memperolehnya, sehingga mereka tetap dalam kesesatan. Sebagian orang berpandangan bahwa hidayah itu gratis dari Allah SWT dan akan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki. Sehingga mereka beralasan ketika masih dalam kemaksiatan dengan kalimat “kita kan belum dapat hidayah”. Di sisi lain malah ada orang yang tidak ingin memperoleh hidayah, mereka menganggap hidayah tidak penting dan tidak ada manfaatnya. Orang seperti ini menganggap petunjuk agama hanya seperti candu yang tidak membantunya sama sekali dalam meraih kesuksesan.

Pengertian

al-Hudâ (ﺍﻠﻬﺩﻯ) = al-Hidâyah (ﺍﻠﻬﺩﺍﻳﺔ) secara bahasa bermakna ar-rosyâd (ﺍﻠﺭﺷﺎﺩ) / al-Irsyâd (ﺍﻹﺭﺷﺎﺩ) yaitu tuntunan dan dalâlah (ﺩﻻﻟﺔ) yaitu penunjuk. Jadi hidayah adalah yang menunjuki/menuntun kepada sesuatu. Dan adh-dholâl (ﺍﻠﺿﻼﻝ) = adh-dholâlah (ﺍﻠﺿﻼﻟﺔ) adalah lawan dari al-Irsyâd yaitu kesesatan.

Sedangkan Hidayah menurut syara’ adalah petunjuk menuju Islam dan beriman kepadanya (al ihtidâu ilâ al Islami wa al imani bihi). Dan adh-dholâl (sesat) menurut pengertian syara’ adalah berpaling dari Islam (al inhirâfu ‘ani al Islam). Sebagaimana sabda Rasulullah saw.

إن الله لا يجمع أمتي على ضلالة

Innallâha lâ yajma’u ummatî ‘alâ dholâlah

“Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umatku dalam kesesatan”.

Macam-macam Hidayah

Dari ayat-ayat yang menyebut hidâyah dan dholâlah dapat kita petik 4 macam hidayah yang diberikan Allah SWT kepada manusia, yaitu: hidâyah al kholqi, hidayah al irsyad wal bayan, hidayah al iman wal Islam dan hidayah at taufiq.

1. Hidâyah al kholqi atau hidayah penciptaan adalah bahwa Allah SWT telah menciptakan dalam diri manusia (secara built in) berupa:

– Fitrah kebutuhan dan pengakuan kepada Sang Pencipta (ar-Ruum [30]:30)

– Qabiliyyah atau kesediaan untuk cenderung kepada yang baik maupun yang buruk (al-Balad [90]:10, asy-Syams [91]:7-8)

– Al ‘aql atau kemampuan berpikir untuk membedakan yang baik dari yang buruk (an-Nahl [16]:78, al-a’râf [7]:179, al-Mulk [67]:10, al-‘Ankabut [29]:43, al-Baqarah [2]:170-171, al-Mâidah [5]:58, al-Anfâl [8]:22, Yûnus [10]: 100).

Hidayah ini dianugerahkan Allah untuk menuntun manusia terhadap sesuatu yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Allah menciptakan organ tubuh yang menghasilkan sinyal lapar, haus, letih adalah merupakan petunjuk yang mendorongnya untuk memperoleh makan, minum, dan beristirahat. Demikian pula diberikannya naluri kasih sayang agar kelestarian jenis manusia terjaga, naluri harga diri yang mendorong manusia lebih bersemangat untuk meningkatkan tingkat kualitas hidupnya baik dalam hal harta, kedudukan, dan posisinya dalam kehidupannya, dan naluri mengagungkan sesuatu yang mendorong dirinya untuk mencari tuhan dan menyembahnya. Ketika timbul tuntutan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya, adanya organ tubuh dan naluri ternyata tidak mampu menghantarkan pada sesuatu yang tepat untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Dalam keadaan seperti itu dibutuhkan akal untuk memahami secara tepat tentang sesuatu yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Misalnya, manusia ketika lapar dengan akalnya dapat memahami makanan yang mana yang bermanfaat dan berbahaya karena mengetahui kandungan zat yang ada pada makanan tersebut. Hal ini berbeda dengan organ tubuh yang hanya pada tingkatan bisa dimakan atau tidak dan mengenyangkan atau tidak.

2. Hidâyah al irsyâd wal bayân atau hidayah petunjuk dan penjelasan adalah datangnya risalah yang dibawa oleh Rasul memuat petunjuk pelaksanaan (juklak) hidup manusia sebagai hamba Allah SWT. Hidayah ini berupa wahyu Allah sekaligus pembawanya yang menyampaikan dan menjelaskan isinya (Rasul). Petunjuk jenis ini menuntun manusia untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya secara benar. Misalnya, ketika muncul rasa lapar, maka manusia ditunjukan oleh akal untuk mendapatkan makanan yang baik lagi tidak membahayakan tubuh. Akan tetapi manusia tidak tahu apakah makanan tersebut halal (dibolehkan Allah) atau haram (dilarang Allah) tanpa informasi dari Al-qur’an yang dibawa oleh Rasullullah. ketika manusia mengagungkan atau menyembah sesuatu, dia tidak mengetahui siapa sebenarnya yang layak dijadikan sebagai tuhan, sebagian menyembah api, patung, matahari, sedang sebagian yang lain menyembah manusia beserta kehebatannya. Dengan petunjuk agama, manusia mengetahui bahwa Allah dan tidak ada sekutu baginya adalah pencipta sebenarnya yang layak untuk disembah. Ketika hasrat seksual muncul sebagai penampakan naluri cinta, sebagian manusia memenuhi keinginannya dengan berzina, homosex, dan lesbian, sedang sebagian yang lain dengan memperkosa, bahkan seks dengan binatang, na’udzubillah. Dengan petunjuk qur’an yang dijelaskan oleh Rasulullah, pemenuhan hasrat seksual dipenuhi dengan jalan akad nikah dengan segala rukun dan syaratnya. Saat ambisi terhadap harta sebagai penampakan naluri harga diri, sebagian manusia memenuhi keinginannya dengan cara monopoli, penimbunan, dan penipuan, sedang sebagian yang lain dengan menghapus kepemilikan dan diatur secara terpusat oleh negara. Dengan petunjuk agama, manusia memahami bahwa harta harus diperoleh, dikelola dan didistribusikan sesuai al-qur’an. Di sinilah peran penting hidayah berupa al-Qur’an untuk memberikan kepastian tentang benarnya sebuah amal dan diterimanya amal seseorang oleh Allah SWT dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Hidayah jenis ini disebutkan dalam banyak firman Allah SWT, diantaranya: (al-Baqarah [2]:2&185; al-Isrâ [17]:9; asy-Syurâ [42]: 52).

3. Hidâyah al imân wal Islâm atau Hidayah iman dan islam adalah petunjuk untuk menyakini dan memeluk agama islam. Hidayah ini diperoleh orang-orang kafir bila mereka membuka diri terhadap petunjuk dengan memikirkan dan meresapinya hingga mendorong dirinya memutuskan menerima hidayah dan masuk Islam. Allah SWT berfirman:

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]: 137). Lihat juga QS. Ali Imrân [3]: 20.

4. Hidâyah at taufiq atau hidayah bimbingan adalah taufiq atau bimbingan dan bantuan dari Allah SWT yang diberikan hanya kepada hamba-Nya yang telah diberi nikmat hidâyah al kholqi lalu ia menggunakannya dengan optimal untuk menerima pesan-pesan hidâyah al irsyâd wal bayân yang sampai kepadanya. Dengan kata lain hidayah taufiq hanya diperoleh orang-orang muslim saja, yaitu orang-orang yang sebelumnya memperoleh hidayatul iman dan Islam. Mereka adalah orang-orang secara istiqomah memahami, mengamalkan, dan mendakwahkan Islam. Bimbingan ini diberikan kepada si hamba tersebut lantaran ia memilih menerima hujjah risalah, padahal ia telah dibebaskan oleh Allah SWT untuk menerima atau menolaknya (al-Kahfi [18]: 29), yakni menerima jalur hidâyah atau menolak jalur itu dan memilih jalur dholâlah alias kesesatan. Oleh karena ia memilih menerima, maka Allah mentaufiqinya, membantunya dan memudahkannya memahami hujjah-hujjah risalah dan hidup dengan menempuh jalan risalah itu. Allah SWT berfirman:

Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya. (QS. Muhammad [47]: 17)

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. al-’Ankabût [29]: 69).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan. (QS. Yunûs [10]: 9).

Sebaliknya orang-orang yang menolak hujjah Rasul, berpaling dari kebenaran, bahkan terus-menerus menentang Rasul, mereka tidak akan mendapat taufiq atau bimbingan Allah SWT untuk menuju jalan kebenaran.

Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Quran), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (QS. an-Nahl [16]: 104).

Demikian juga Allah SWT tidak akan memberi bimbingan taufiq kepada hidayah bagi orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengan hidayah, kecuali jika mereka melepaskan sifat-sifat buruk itu. (al-Ahqâf [46]: 10, at-Taubah [9]: 80, an-Nahl [16]: 37&107).

Peranan Manusia dalam Hidayah

Jadi jelaslah bahwa manusia sebagai hamba Allah SWT itu sendirilah yang bebas mengusahakan dirinya untuk menempuh dan mendapatkan jalan hidâyah maupun jalan kesesatan. Ialah yang menentukan pilihan satu dari dua jalan (kebaikan dan keburukan) tanpa ada paksaan. Hanya saja, jika ia memilih jalan hidayah, maka Allah SWT akan menambah hidayah kepadanya, mentaufiqinya dan membantunya serta memudahkan baginya menempuh jalan hidâyah itu. Sebaliknya, jika ia memilih jalan dholâlah atau jalan sesat, maka Allah SWT akan membiarkannya dalam kesesatan bahkan mata kepala dan mata hatinya akan ditutup oleh Allah SWT dari kebenaran disebabkan kesesatan dan keingkaran yang dilakukannya.

Jadi tidak ada kesesatan dari awal, tidak ada kesesatan built in atau kesesatan dari sononya. Tidak ada. Yang ada adalah bahwa si hamba melakukan perbuatan sesat dan tidak segera menyadari dan menghindarinya, lalu ia cenderung terus-menerus melakukan kesesatan dan mensifati dirinya dengan sifat-sifat orang sesat serta tidak mau mendengar dan mengindahkan berbagai peringatan yang disampaikan kepadanya. Ia menolak kebenaran hidâyah. Orang-orang seperti ini akan dibiarkan oleh Allah SWT menempuh jalur yang ia ingini: JALUR KESESATAN! Dan Allah SWT tidak membuka mata kepala dan hatinya untuk melihat jalur kebenaran sebagai jalur alternatif baginya. Setanpun menghiaskan kebaikan pada jalur yang ditempuhnya dan menggambarkan buruk terhadap jalur kebenaran hidâyah. Sehingga dia merasa yakin dan merasa benar dengan jalur sesat yang ditempuhnya itu, bahkan ia perjuangkan hingga akhir hayatnya. Itulah celakanya! Sebagaimana firman Allah SWT:

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. dan bagi mereka siksa yang Amat berat. (QS. Al-Baqarah [2]: 6-7).

Oleh karena itu, bagi kita yang beriman kepada Allah SWT, ayat-ayat-Nya, Rasul-Nya dan hari kiamatNya kelak, hendaknya berhati-hati dari perbuatan yang bisa menggelincirkan kita ke dalam jurang kesesatan dengan menyadari bahwa setiap perbuatan sekecil apapun akan dimintai pertanggungjawaban (al-Mudatsir [74]: 38) dan akan kita lihat rekamannya nanti di hari kiamat (al-Zalzalah [99]: 7-8). Di samping itu, mengingat kita sebagai manusia memiliki sifat lemah dan mudah terpedaya bahkan bodoh dengan sering menganiaya diri sendiri, maka tepatlah Allah SWT mengajarkan kepada kita agar senantiasa memohon hidâyah kepadaNya dalam shalat minimal 17 kali sehari, sebagaimana firmanNya:

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS. al-Fâtihah [1]:6).

Rasulullah pun berdoa: ”Yâ muqollibal qulûbi tsabbit qolbi ’alâ dînika” (Ya Allah, Dzat yang kuasa membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku dalam agamaMu) (HR. Tirmidzi dan Hakim). ”Ya Allah, dengan kemuliaanMu yang tiada Tuhan selain Engkau, aku berlindung agar Engkau tidak menyesatkan aku” (HR. Muslim)

Kalau Rasulullah Saw pembawa hidayah yang ma’shum itu berdo’a seperti itu, apalagi kita??

Wallâhu a’lâm bi ash shawâb.

2 Tanggapan

  1. Assalamualaykum

    Nah, ini akhirnya ilmunya keluar juga. Posting lagi yang banyak Mas, Insya Allah sangat berguna bagi kita semua!!!

  2. Terima kasih Mas, tulisan anda berguna sekali bagi saya ,untuk meningkatkan iman dan takwa saya Kepada Alloh SWT, smoga dengan tulisan anda ,qolbu saya tenang, dan Alloh memberikan taufik dan hisyahnya kepada Saya, amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: